Friday, April 20, 2007

catatan LEPAS

JIWA PENDIDIKAN DAN IPDN

Banyak kondisi yang dilalui dan dialami oleh manusia yang membuatnya kehilangan kendali diri dan akhirnya kondisi itu menguasai dirinya sehingga timbullah berbagai fitnah dan pertikaian. Pertikaian ini bisa terjadi di mana saja dan dalam berbagai kepentingan apa saja. Fitnah yang disebabkan karena lepasnya kendali ini, amat berat dan besar dampaknya baik pada orang tersebut maupun terhadap orang lain. Sejarah peradaban manusia senantiasa diwarnai dengan tinta pertikaian. Jenis pertikaiannya pun beragam, mulai dari yang paling kecil sampai pertikaian antar negara bahkan pertikaian antar beberapa negara dengan yang lain.

Peristiwa “kekerasan” di IPDN, yang menewaskan beberapa mahasiswanya merupakan sebuah bukti hilangnya kendali dalam diri manusia. Manusia yang sejatinya suka terhadap keamanan dan kedamaian akan terusik dengan kepentingan-kepentingan sesaat yang nisbi dan menipu. Budaya balas dendam, misalnya, di institut kedinasan ini juga merupakan ajang melepas kendali diri yang seharusnya diikat dengan kuat sehingga tidak mudah lepas dan putus oleh kepentingan sesaat. Situasi lingkungan juga memberikan dampak pada seseorang dalam menciptakan kondisi bagi dirinya. Ketika situasi itu dibangun dengan baik maka akan berpengaruh terhadap pembentukan kondisi yang baik pula. Wacana membubarkan institut kedinasan milik pemerintah, saya anggap sebagai langkah yang kurang tepat, walaupun pemerintah tidak terlalu “tabah” untuk melakukannya. Karena IPDN dengan berbagai peristiwanya, tetap “dibutuhkan” oleh pemerintah. Praja yang dihasilkan oleh institut ini pula yang akan dimanfaatkan untuk kepentingan pemerintah. Hanya, kepentingan politik dan kekuasaan yang “kotor” jangan sampai mengotori sistem yang ada dalam pendidikan. Karena akhir dari pengkaburan orientasi pendidikan ke orientasi politik Indonesia yang kotor akan menyebabkan kehancuran. Bahkan jiwa pendidikan akan tergantikan dengan jiwa haus kekuasaan dan politik.

Maka, yang paling urgen, saat ini adalah mengubah sistem yang sudah terbukti gagal dalam tubuh IPDN sendiri dan menggantinya dengan sistem yang lebih menghargai dan menghormati kemanusiaan. Kalau perlu pemerintah mengganti pelaku dan pelaksana pendidikan IPDN dengan praja-praja yang tidak kerdil dan tidak takut terhadap gertakan. Orientasi sebuah pendidikan kedinasan yang menyiapkan pemimpin harus menuju pada orientsi membentuk profil pemimpin yang ideal. Pemerintah bukan membubarkan lembaga pendidikan kedinasannya akan tetapi membubarkan sistem yang dipakai selama ini oleh pendidikan kedinasan itu sendiri dan menggantinya dengan sistem pendidikan islam yang berorientasi pada takut pada Allah. Karena hanya dengan taqwa inilah, pembunuhan mahasiswa tidak terjadi, korupsi akan lenyap, pembantaian mahasiswa seperti di Virginia Tech tidak berulang. Apalagi hanya di IPDN. Insya Allah.


Damanhuri Khazin
Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al hakim (STAIL) Surabaya

No comments: