Tuesday, April 24, 2007

JARINGAN MEDIA JURNALISTIK KAMPUS

Sejak awal berdirinya negara kesatuan Indonesia, sejarah menunjukan kontribusi kampus-kampus terhadap banyak perubahan mendasar di negeri ini. Kaum terpelajar muda menampakan dirinya sebagai tenaga pendorong pembaruan bangsa. Sejarah mengukir pengorbanan yang luar biasa dari kaum muda ini dalam mengarahkan bangsa ini ke zaman reformasi yang kita nikmati hari ini.

Kaum terpelajar muda tampaknya terus menjadi penyeimbang dalam kancah kehidupan bernegara di Indonesia. Kaum terpelajar muda bahkan merupakan kekuatan yang tidak mungkin di abaikan begitu saja - terbukti Pak Amin rela meninggalkan kepemimpinan sidang MPR-nya untuk menemui kaum muda yang berada diluar gedung pada saat SU MPR lalu.

Pertanyaannya – apakah kaum terpelajar muda ini harus terus menerus menggunakan pola aksi demonstrasi fisik dan berhadapan dengan PHH dalam menyampaikan aspirasinya? Berapa banyak tumbal kaum terpelajar muda lagi yang harus berkorban untuk ibu pertiwi? Mungkinkah jumlah pengorbanan jiwa & raga kaum intelektual muda dikurangi tanpa mengurangi tujuan mulia yang ingin dicapai? Alternatif apa yang mungkin digunakan?

Sun Tzu ksatria Cina tahun 500 S.M. dalam bukunya The Art of War mengatakan ". . . attaining one hundred victories in one hundred battles is not the pinnacle of excellence. Subjugating the enemy's army without fighting is the true pinnacle of excellence." Singkat seninya – bagaimana mencapai tujuan & musuh kalah tanpa bertempur dan berkorbanan secara fisik! Teknik information warfare & psychological warfare melalui jaringan media massa barangkali menjadi kuncinya.

Media massa menjadi alternatif yang paling sederhana yang memungkinkan fungsi penyeimbang terus di emban tanpa perlu mengorbankan kaum intelektual muda dalam proses pencapaian tujuan-nya karena harus secara fisik berhadapan dengan PHH. Yang lebih gila lagi barangkali – jika berbentuk jaringan media jurnalistik kampus secara mandiri dimotori kaum intelektual muda.

bagaimana jika kaum intelektual muda ini membangun jaringan media jurnalistik kampus yang tersebar di nusantara mengkaitkan semua kampus yang ada. Keberadaan jaringann media cetak, media radio, media TV bahkan media Internet di kampus secara mandiri & swadana akan mempunyai nilai strategis sangat tinggi sebagai penyeimbang bangsa – bahkan mungkin menjadi MPR tandingan jika di dukung dengan informasi yang lebih lengkap dan akurat di bandingkan MPR-nya Pak Amin.

Koran kampus & Radio Kampus bukan barang baru bagi sebagian kampus di Indonesia. Dasar kemampuan jurnalistik mahasiswa telah ada & tinggal di poles supaya menjadi lebih profesional yang secara simultan harus di barengi strategi regenerasi. Yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah membuat koran-koran ini menjadi sebuah kesatuan aksi dalam jaringan informasi memanfaatkan infrastruktur yang ada. Teknologi warung internet yang memungkinkan akses Internet dengan murah dan terjangkau akan memicu kemudahan ini semua.

Bayangkan impact yang akan dihasilkan jika koran & radio kampus di 1300 PTS seluruh Indonesia dapat dikaitkan menjadi satu kesatuan. Bayangkan jika juta-an mahasiswa dapat memfungsikan dirinya sebagai reporter & pemberi fakta yang aktual dan akurat. Bayangkan jika hasil analisis mendalam dari ribuan kaum intelektual muda dalam bentuk laporan, tugas akhir, paper dll dapat terdistribusi dalam platform knowledge infrastruktur yang dibangun secara mandiri & swadana.

Efek jaringan media jurnalistik kampus dengan kekuatan ribuan reporter, ribuan outlet jelas akan menjadi penyeimbang yang tidak bisa di sepelekan. Sekarang saja koran virtual Mas Budi detik.com di Internet yang dengan kekuatan redaksi beberapa orang dan reporter puluhan saja dapat secara perlahan menjadi saingan berat kantor berita Antara maupun koran-koran di Indonesia.

Saya pikir, untuk memfasilitasi semua ini sebetulnya sederhana saja – hanya tempat diskusi rekan-rekan intelektual muda di kampus-kampus secara elektronik di mailing list Internet. Saya rasa fasilitas mailing list seperti majordomo@itb.ac.id bisa digunakan sebagai modal awal untuk pembangunan jaringan media jurnalistik kampus di Indonesia. Silahkan menghubungi saya di onno@indo.net.id atau kelompok cnrg@itb.ac.id untuk koordinasi lebih lanjut. Mudah-mudahan jaringan media kampus ini bisa menjadi tulang punggung pembaruan di Indinesia.

Onno W. Purbo

Friday, April 20, 2007

TIP bagian keenam

TIP MENULIS LATAR BELAKANG
Wednesday, August 09, 2006 - 02:45
Hendra

Dalam menulis sebuah proposal, skripsi, tesis, dan tulisan formal lain yang sejenisnya (selanjutnya kita sebut sebagai Tulisan), biasanya ada satu bagian yang namanya "Latar Belakang". Latar belakang ini pada umumnya ada di bagian pertama pada Tulisan, atau di BAB Pendahuluan. Namun tidak jarang di antara kita merasa bingung apa yang harus ditulis pada bagian "Latar Belakang" itu. Sehingga banyak di antara kita yang menganggap bahwa Latar Belakang itu sekedar basa-basi, tidak relevan dengan isi Tulisan, atau sekedar pembukaan biasa.

Padahal Latar Belakang justru bagian yang penting sebagai titik tolak untuk memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai apa penyebab munculnya Tulisan kita. Dari Latar Belakang lah dapat kita perlihatkan sebuah "milestone" kepada pembaca. Latar Belakang lah yang memberikan penjelasan rasional mengenai penyebab mengapa Tulisan kita muncul.

Berikut ini saya coba uraikan beberapa hal agar dapat membantu menyusun "Latar Belakang". Latar belakang terdiri dari tiga unsur, yaitu:
1. Kondisi ideal
2. Kondisi saat ini
3. Solusi / suatu hal untuk mengatasi gap antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal

1. Kondisi Ideal
Kondisi ideal menggambarkan sebuah keadaan yang menjadi tujuan, dicita-citakan, atau impian. Dalam sebuah organisasi, kondisi ideal biasanya diuraikan dalam sebuah visi misi. Kondisi ideal juga bisa berarti suatu kondisi jangka pendek / jangka menengah / jangka panjang yang ingin dicapai, khususnya yang berkaitan dengan Tulisan yang akan Anda rumuskan. Ibaratnya perjalanan, kondisi ideal ini adalah kota tujuan yang ingin dicapai.

2. Kondisi Saat Ini
Kondisi saat ini menggambarkan keadaan yang secara realita benar-benar terjadi pada saat ini. Uraikan kondisi realita tersebut, terutama yang berkaitan dengan tulisan yang sedang dirumuskan. Dan nantinya akan dikaitkan dengan kondisi ideal di atas, akan ditarik benang merahnya. Ibaratnya perjalanan, kondisi saat ini adalah ungkapan tentang: sudah sampai mana perjalanan kita, apakah sudah sampai 10 KM, sudah sampai kota X, atau bahkan belum jalan sama sekali.

3. Solusi
Pada bagian ini, barulah diuraikan hal-hal yang akan dilakukan/ditulis/diteliti/dll dalam rangka mengatasi gap antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal yang ingin dicapai. Ibaratnya perjalanan, solusi ini adalah usaha yang akan kita lakukan untuk menuju kota tujuan dari posisi perjalanan kita saat ini. Solusi inilah yang akan menjadi inti dari Tulisan kita nanti. Setelah semua diuraikan dalam Latar Belakang, barulah sub-bab berikutnya. Misalnya sub-bab permasalahan yang menggambarkan masalah apa saja yang mungkin akan dihadapi dalam melaksanakan solusi/Tulisan yang akan dikerjakan. Lalu subbab-subbbab lainnya, misalnya Tujuan, Sasaran, dll.

Oke, selamat menulis.

www.hdn.or.id

TIP-TIP bagian kelima

PENULISAN CERITA PENDEK (CERPEN)

 Pengertian umum cerpen
H. B. Jassin mengatakan bahwa yang disebut cerpen harus memiliki bagian perkenalan, pertikaian, dan penyelesaian. Aoh. KH mendefinisikan bahwa cerpen adalah salah satu ragam fiksi atau cerita rekaan yang sering disebut kisahan prosa pendek.
Apapun definisinya, cerpen harus memenuhi kriteria ilmiah secara teoritis dan secara praktis dapat diaplikasikan, antara lain;
Pertama, cerita pendek harus pendek. Seberapa pendeknya? Sebatas rampung baca sekali duduk menunggu kereta api. Ia juga harus memberi kesan secara terus-menerus hingga kalimat terakhir. Dengan artian cerpen harus ketat, tidak mengobral detil, dialog hanya diperlukan untuk menampakkan watak, atau menjalankan cerita atau menampilkan problem.
Kedua, cerpen mengalir dalam arus untuk menciptakan efek tunggal dan unik. Ketunggalan pikiran dan aksi bisa dikembangkan lewat satu garis dari awal sampai akhir. Dalam cerpen tidak dimungkinkan terjadi aneka peristiwa digresi.
Ketiga, cerpen harus ketat dan padat. Setiap detil harus mengarus pada satu efek saja. Dan berakhir pada kesan tunggal. Ekonomisasi kata dan kalimat merupakan salah satu ketrampilan yang dituntut bagi seorang cerpenis.
Keempat, cerpen harus mampu meyakinkan pembacanya bahwa ceritanya benar-benar terjadi, bukan suatu bikinan, rekaan. Itulah sebabnya dibutuhkan suatu keterampilan khusus, adanya konsistensi dari sikap dan gerak tokoh, bahwa mereka benar-benar hidup, sebagaimana manusia yang hidup.
Kelimat, cerpen harus menimbulkan kesan yang selesai, tidak lagi mengusik dan menggoda, karena ceritanya seperti masih berlanjut. Kesan selesai itu benar-benar meyakinkan pembaca, bahwa cerita itu telah tamat, sampai titik akhirnya, tidak ada jalan lain lagi, cerita benar-benar rampung di situ.

 Karakateristik cerpen
Karakteristik utama cerpen adalah pendek dan singkat. Singkat, maksudnya, tokoh-tokoh yang memegang peranan tidak banyak jumlahnya, bisa jadi hanya seorang, dan paling banyak empat orang. Itu pun tidak seluruh kepribadian tokoh, atau tokoh-tokoh diungkapkan di dalam cerita.Fokus atau titik perhatian di dalam cerita hanya satu. Konfliknya hanya satu, dan ketika cerita itu dimulai, konflik itu sudah hadir di situ.
Pendek, artinya, kita tidak menemukan adanya perkembangan cerita. Tidak ada cabang-cabang cerita. Tidak ada kelebatan pemikiran tokoh-tokohnya yang melebar ke pelbagai hal dan masalah.
Dan karena jumlah tokohnya terbatas, peristiwanya singkat, waktu berlangsungnya tidak begitu lama, kata-kata yang dipakai harus hemat, tepat dan padat, maka tempat kejadiannya pun juga terbatas, berkisar 1-3 tempat saja.

 Unsur-unsur dalam cerpen
1. Tema
Gagasan inti, ya itu tema. Dia merupakan pondasi sebuah bangunan. Tidak mungkin mendirikan bangunan tanpa pondasi. Artinya, tema adalah sebuah ide pokok, pikiran utama sebuah cerpen; pesan atau amanat. Dasar tolak untuk membentuk rangkaian cerita; dasar tolak untuk bercerita.
Ide pokok adalah sesuatu yang hendak disampaikan pengarang kepada para pembacanya. Sesuatu itu biasanya adalah masalah kehidupan, komentar pengarang mengenai kehidupan atau pandangan hidup pengarang dalam menghadapi kehidupan luas ini. Pengarang tidak dituntut menjelaskan temanya secara gamblang dan final, tidak ia bisa saja hanya menyampaikan sebuah masalah kehidupan dan akhirnya terserah pembaca untuk menyikapi dan menyelesaikannya.
Diantara tema itu antara lain; (1) Kejahatan pada akhirnya akan dikalahkan oleh kebaikan; (2) Persahabatan sejati adalah setia dalam suka dan duka; (3) Cinta adalah energi kehidupan, karena cinta itu dapat mengatasi segala kesulitan. Dan lain sebagainya.
2. Alur atau Plot
Alur adalah rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek tertentu. Dalam pengertian umum, plot adalah suatu permufakatan atau rancangan rahasia guna mencapai tujuan terntentu. Rancangan tujuan itu bukan plot, akan tetapi semua aktivitas untuk mencapai yang diinginkan itulah plot.
Menurut Arswendo Atmowiloto, plot adalah sebab-akibat yang membuat cerita berjalan dengan irama atau gaya dalam menghadirkan ide dasar. Semua peristiwa yang terjadi di dalam cerpen harus berdasarkan sebab akibat, sehingga plot jelas tidak mengacu pada jalan cerita, tetapi menghubungkan semua peristiwa. Jakob Sumardjo dalam Seluk-beluk Cerita Pendek menjelaskan tentang plot dengan mengatakan, “contoh populer menerangkan arti plot adalah begini: Raja mati. Itu disebut jalan cerita. Tetapi raja mati karena sakit hati, adalah plot.”
Dalam cerpen biasanya digunakan plot ketat, bila salah satu kejadian ditiadakan jalan cerita menjadi terganggu dan bisa jadi, tidak bisa dipahami. Adapun jenis plot antara lain:
 Plot keras, jika akhir cerita meledak keras di luar dugaan pembaca.
 Plot lembut, jika akhir cerita berupa bisikan, tidak mengejutkan pembaca, namun tetap disampaikan dengan mengesan sehingga seperti terus terngiang di telinga pembaca.
 Plot lembut-meledak, atau plot meledak-lembut adalah campuran plot keras dan lembut.
Adapun jika dilihat dari sifatnya, maka ada cerpen dengan plot terbuka; jika akhir cerita merangsang pembaca untuk mengembangkan jalan cerita di samping masalah dasar persoalan, plot tertutup; jika akhir cerita tidak merangsang pembaca untuk meneruskan jalan cerita, dan campuran keduanya.
3. Penokohan
Yaitu penciptaan citra tokoh dalam cerita. Tokoh harus tampak hidup dan nyata hingga pembaca merasakan kehadirannya. Berhasil tidaknya sebuah cerpen ditentukan oleh berhasil tidaknya menciptakan citra, watak dan karakter tokoh tersebut. Penokohan bisa dikatakan sebagai mata air kekuatan sebuah cerpen.
Pada dasarnya sifat tokoh ada dua macam. Pertama, sifat lahir (rupa, bentuk). Kedua, sifat batin (watak dan karakter). Sifat tokoh dalam cerita bisa diungkapkan dengan berbagai cara, diantaranya melalui:
 Tindakan, ucapan dan pikirannya
 Tempat tokoh tersebut berada
 Benda-benda di sekitar tokoh
 Kesan tokoh lain terhadap dirinya
 Dekripsi langsung secara naratif oleh pengarang.
4. Latar atau Setting
Latar adalah keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana dalam suatu cerita. Pada dasarnya, latar mutlak dibutuhkan untuk menggarap tema atau plot, karena untuk menghasilkan cerita yang gempal, padat dan berkualitas latar harus bersatu dengan tema dan plot. Latar bisa dipindahkan ke mana saja, berarti latar tidak integral dengan tema dan plot.
5. Sudut pandangan tokoh
Sudut pandangan tokoh adalah visi pengarang yang dijelmakan ke dalam pandangan tokoh-tokoh bercerita. Jadi sudut pandangan ini sangat erat dengan tekhnik bercerita.
Diantara sudut pandangan tokoh ini, antara lain:
 Sudut pandangan orang pertama. Lazim disebut point of view orang pertama. Pengarang menggunakan sudut pandang “aku” atau “saya”. Di sini yang harus diperhatikan adalah pengarang harus netral dengan “aku” dan “saya”-nya.
 Sudut pandangan orang ketiga. Yang dipakai adalah “ia” atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; “aisha” dalam; “aisha” dalam Ayat-ayat Cinta.
 Sudut pandangan campuran, pengarang membaurkan pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan.
 Sudut pandangan yang berkuasa. Tekhnik ini menggunakan kekuasaan si pengarang untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Tekhnik ini membuat cerita sangat informatif. Jika tidak hati-hati dan piawai sudut pandangan berkuasa akan menjadikan cerpen terasa menggurui.
 Anatomi cerpen
Anatomi cerpen bisa juga disebut struktur cerita. Cerpen setidaknya memiliki anatomi sebagai berikut:
1. Situasi (pengarang membuka cerita)
2. Peristiwa-peristiwa terjadi
3. Peristiwa-peristiwa memuncak
4. Klimaks
5. Anti Klimaks
Komposisi cerpen menurut H.B. Jassin adalah; perkenalan, pertikaian dan penyelesaian. Cerpen yang baik adalah yang memiliki anatomi dan struktur cerita yang seimbang.
 Agar sebuah cerpen memiliki daya pikat
Ada beberapa trik-trik yang dapat dipertimbangkan agar cerpen anda memiliki daya tarik yang memikat, antara lain:
o Carilah ide cerita yang menarik dan tidak klise.
o Buatlah lead paragraf awal dan kalimat penutup cerita yang semenarik mungkin. Alinea awal dan alinea akhir sangat menentukan keberhasilan sebuah cerpan. Alinea awal berfungsi menggiring pembaca untuk menelusuri dan masuk dalam cerita yang dibacanya. Sedangkan kalimat akhir adalah kunci kesan yang disampaikan pengarang. Kunci kesan ini sangat penting, karena cerpen yang memberikan kesan yang mendalam di hati pembacanya, akan selalu dikenang.
o Buat judul cerita yang bagus dan menarik. Judul yang baik harus menggugah rasa ingin tahu pembacanya. Menurut M. Fauzil Adhim, hal yang perlu diperhatikan dalam membuat judul; Pertama, judul sebaiknya singkat dan mudah diingat. Kedua, judul harus mudah diucapkan. Dan Ketiga, kuat maknanya.
o Perhatikan tekhnik penceritaan. Tekhnik yang digunakan pengarang menyangkut penokohan, penyusunan konflik, pembangunan tegangan dan penyajian cerita secara utuh. Diantara tekhnik penceritaan adalah; in medias res (memulai cerita dari tengah) atau flashback (sorot balik, penyelaan kronologis).
o Buatlah suspense, kejutan-kejutan yang muncul tiba-tiba (bedakan dengan faktor kebetulan), jangan terjebak pada cerita yang bertele-tele dan mudah ditebak.
o Cerpen harus mengandung kebenaran, keterharuan dan keindahan.
o Ingatlah setiap pengarang mempunyai gaya khas. Pakailah gaya sendiri, jangan meniru. Gunakan bahasa yang komunikatif. Hindari gaya berlebihan dan kata-kata yang terlalu muluk.
o Perhatikan setiap tanda baca dan aturan berbahasa yang baik, tetapi tidak kaku. Jangan bosan untuk membaca dan mengedit ulang cerpen yang sudah anda selesaikan.
Akhirnya sebagai penutup, agar cerpen kamu berbobot, saya ingatkan pesan Edgar Allan Poe, Dalam cerpen tak boleh ada satu kata pun yang terbuang percuma, harus punya fungsi, tujuan dalam komposisi keseluruhan. Selamat menulis cerpen.
Sebagai pamungkas pembahasan ini, saya kemukakan sepuluh langkah yang paling diyakini oleh Ustadz Habiburrahman el Shirazy, adalah menulis, menulis, menulis, menulis, menulis, menulis, menulis, menulis, menulis, dan menulis.

Oleh Damanhuri Khazin Rahbini
Ulasan Ustadz Habiburrahman el Shirazy dalam buku Fenomena Ayat-Ayat Cinta.

TIP-TIP bagian keempat

TEKHNIK MENULIS: ENAM LANGKAH, TUJUH PERTANYAAAN.
Dirangkum oleh Damanhuri Khazin Rahbini.

Enam langkah tersebut adalah:
1 Pencelupan
Anda harus masuk ke dalam subjek anda, hampir pada keseluruhan poin. Tidak membutuhkan penulisan apapun, tetapi lebih banyak membaca, juga bertanya pada sumber yang tahu. Seorang penulis harus selalu menjadi seorang pengamat yang jeli dan cermat, harus selalu melihat, tidak peduli apa tingkat partisipasinya dalam situasi tersebut. Mark Twain, mengatakan, “Pertama dapatkan fakta-fakta anda, kemudian anda dapat mengubahnya sebanyak yang anda inginkan.” Instrumennya adalah lima ‘W’ satu ‘H’ ditambah pertanyaan, Anehkah?.
2 Catatan-catatan
Anda harus memandu diri untuk mencatat hal-hal penting dan terpenting dari data-data yang telah anda dapat. Pilihlah yang terbaik dari semua data dan informasi kasar yang anda temukan. Sudah waktunya anda mulai menulis pikiran acak, frase, pertanyaan, bayangan, dan ide lain yang berhubungan dengan subjek. Yang akan berfungsi sebagai dasar untuk artikel, buku, makalah, pidato, dan lain sebagainya.
3 Tinjauan ulang dan berpikir
Ini adalah langkah balik. Anda meninjau ulang catatan-catatan yang sudah anda pilih, dan yang tidak anda pilih. Anda lihat kembali, pikirkan kembali apa yang telah anda pelajari dan amati. Dan yang terpenting, pikirkan ulang visi asli anda untuk produk yang akan anda tulis. Dan selanjutnya anda sudah siap melakukan penulisan yang sebenarnya.
4 Daftar isi
Pada tahap ini atur kekacauan. Susun kerja anda. Buat garis besar apa yang akan tulis, bahkan jika bisa sampai sub-sub yang paling kecil. Lihat dengan seksama bagian perbagian; pembukaan, tengah, dan akhir. Lalu buat jadwal kerja anda!. “Jangan bingung, organisasikanlah!” Joe Hill said.
5 Bab demi bab
Inilah saatnya menulis! Bab dami bab. Gabungkanlah bahan-bahan itu sesuai garis yang telah anda buat. Perkaya dengan bahan lain milik anda. Tulis dengan penuh percaya diri. Tulis dengan kekuatan jiwa. Tulis dengan emosi!
6 Tinjauan ulang dan perbaikan
Sekarang, setelah tulisan anda selesai. Anda jangan langsung puas. Teliti kembali dan tulis ulang dengan perbaikan, revisi dan pengembangan. Ini saatnya anda mengedit naskah anda.


Inilah tekhnik menulis yang baik, sebagaimana ditulis oleh penulis besar Stepehen J. Spignesi. Hoosier Kim Hubbard said,”tidak ada kegagalan kecuali tidak lagi mencoba.”

catatan LEPAS

JIWA PENDIDIKAN DAN IPDN

Banyak kondisi yang dilalui dan dialami oleh manusia yang membuatnya kehilangan kendali diri dan akhirnya kondisi itu menguasai dirinya sehingga timbullah berbagai fitnah dan pertikaian. Pertikaian ini bisa terjadi di mana saja dan dalam berbagai kepentingan apa saja. Fitnah yang disebabkan karena lepasnya kendali ini, amat berat dan besar dampaknya baik pada orang tersebut maupun terhadap orang lain. Sejarah peradaban manusia senantiasa diwarnai dengan tinta pertikaian. Jenis pertikaiannya pun beragam, mulai dari yang paling kecil sampai pertikaian antar negara bahkan pertikaian antar beberapa negara dengan yang lain.

Peristiwa “kekerasan” di IPDN, yang menewaskan beberapa mahasiswanya merupakan sebuah bukti hilangnya kendali dalam diri manusia. Manusia yang sejatinya suka terhadap keamanan dan kedamaian akan terusik dengan kepentingan-kepentingan sesaat yang nisbi dan menipu. Budaya balas dendam, misalnya, di institut kedinasan ini juga merupakan ajang melepas kendali diri yang seharusnya diikat dengan kuat sehingga tidak mudah lepas dan putus oleh kepentingan sesaat. Situasi lingkungan juga memberikan dampak pada seseorang dalam menciptakan kondisi bagi dirinya. Ketika situasi itu dibangun dengan baik maka akan berpengaruh terhadap pembentukan kondisi yang baik pula. Wacana membubarkan institut kedinasan milik pemerintah, saya anggap sebagai langkah yang kurang tepat, walaupun pemerintah tidak terlalu “tabah” untuk melakukannya. Karena IPDN dengan berbagai peristiwanya, tetap “dibutuhkan” oleh pemerintah. Praja yang dihasilkan oleh institut ini pula yang akan dimanfaatkan untuk kepentingan pemerintah. Hanya, kepentingan politik dan kekuasaan yang “kotor” jangan sampai mengotori sistem yang ada dalam pendidikan. Karena akhir dari pengkaburan orientasi pendidikan ke orientasi politik Indonesia yang kotor akan menyebabkan kehancuran. Bahkan jiwa pendidikan akan tergantikan dengan jiwa haus kekuasaan dan politik.

Maka, yang paling urgen, saat ini adalah mengubah sistem yang sudah terbukti gagal dalam tubuh IPDN sendiri dan menggantinya dengan sistem yang lebih menghargai dan menghormati kemanusiaan. Kalau perlu pemerintah mengganti pelaku dan pelaksana pendidikan IPDN dengan praja-praja yang tidak kerdil dan tidak takut terhadap gertakan. Orientasi sebuah pendidikan kedinasan yang menyiapkan pemimpin harus menuju pada orientsi membentuk profil pemimpin yang ideal. Pemerintah bukan membubarkan lembaga pendidikan kedinasannya akan tetapi membubarkan sistem yang dipakai selama ini oleh pendidikan kedinasan itu sendiri dan menggantinya dengan sistem pendidikan islam yang berorientasi pada takut pada Allah. Karena hanya dengan taqwa inilah, pembunuhan mahasiswa tidak terjadi, korupsi akan lenyap, pembantaian mahasiswa seperti di Virginia Tech tidak berulang. Apalagi hanya di IPDN. Insya Allah.


Damanhuri Khazin
Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al hakim (STAIL) Surabaya

TIP2 bagian ketiga

TIPS BERGAUL DENGAN WARTAWAN
By Damanhuri Khazin Rahbini

Bergaul adalah sebuah keniscayaan bagi setiap manusia. Karena manusia sebagai social human membutuhkan instrument untuk melaksanakan tugasnya sebagai orang yang bersosialisasi dengan yang lain. Manusia dari keahlian dan keterampilannya, sangat beragam, oleh karena itu dalam berinteraksi dengan manusia yang lain, diperlukan cara yang beragam pula. Di samping itu, manusia mempunyai watak dan sifat yang variatif. Seseorang itu adalah manusia. Seseorang yang tinggal di lingkungan yang mengenal dan mempraktekkan agama dengan baik sangat berbeda dengan seseorang yang tinggal bersama dengan gerombolan penjahat dan bajingan.
Di dunia ini yang ada hanya dua, itupun ada, berpasangan dengan lainnya. Dari sikap misalnya, ada baik buruk, dari bentuk, ada gemuk kurus, tinggi pendek, dari usia, tua muda. Dalam hal ini yang menjadi kajian adalah bagaimana cara kita bergaul dengan wartawan. Wartawan adalah seseorang yang berprofesi untuk mencari warta, berita, informasi, kabar dan yang semakna dengan itu.
Diantara tips yang akan penulis paparkan, ketika anda berjumpa, atau dijumpai, atau dikunjungi, dan anda dijadikan obyek oleh si wartawan untuk digali informasinya, antara lain sebagai berikut:

BERSIKAPLAH SOPAN DAN APA ADANYA
Anda tidak sedang berbicara dengan binatang. Tapi anda masih berbicara dengan manusia juga. Maka hargailah dia sebagai seorang manusia yang sama dengan anda. Bersikap ramah merupakan kunci pergaulan anda dengan sesama, balaslah pertanyaannya dengan pertanyaan, jika itu dibutuhkan. Tampakkkan bahwa anda adalah orang yang menyenangkan bagi semua orang. Lebih banyak mendengar lebih efektif dari pada benyak cakap, sia-sia.

TANYAKAN KEPADANYA APA TUJUAN DARI PEMBICARAAN ITU, DIGUNAKAN UNTUK APA?
Walaupun anda sedang berbicara dengan manusia juga. Tapi dia adalah seorang wartawan. Tanyakan dari media apa dia ditugaskan, karena hal ini akan memberikan gambaran kepada anda untuk sikap selanjutnya. Apa agamanya, dan apa hubungannya dengan anda, berhati-hati itu lebih baik ketika anda berbincang dengan seorang wartawan. Jika dia wartawan muslim, mungkin masih memungkinkan untuk anda layani keperluannya, walaupun wartawan muslim bukan jaminan keselamatan anda. Sadarilah bahwa anda sedang berbicara dengan orang yang akan memuat dan memberitakan anda ke publik.

JANGANLAH TERLALU MERENDAH DAN JANGAN JUGA TERLALU MENINGGI
Anda, apapun profesinya tetaplah berada dalam kodrat kemanusian. Jangan terlalu menunduk, sehingga anda berat untuk mendongakkan kepala dan jangan juga mendongak ke langit, sehingga anda malu untuk menunduk ketika anda sudah tidak pantas untuk mendongakkan kepala. Karena manusia itu, kadang salah dan kadang benar, karena iman itu kadang naik dan kadang turun. Anda harus memaksa iman anda stagnan dalam ketinggian yang tanpa puncak, tapi jangan memaksa kondisi stagnan, karena kita pasti mengalami perubahan. Pahami?

BERBICARALAH SEPERLUNYA
Berbicara seperlunya, itu cara yang baik untuk berinteraksi dengannya. Jawablah pertanyaannya seperlunya, tanpa mengurangi hormat anda padanya. Karena dengan begitu anda tidak memancing dia untuk menanyai lebih dalam tentang sesuatu yang unik dari anda. Hal ini, juga meminimalisir pancingannya berhasil bagi anda.

Surabaya, 14 April 2007.

TIP2 bagian kedua

TEKNIK WAWANCARA
Disampaikan sebagai bahan kuliah Dasar-dasar Jurnalistik, mahasiswa semester IV & VIII Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Luqman Al Hakim (STAIL) Jurusan Tarbiyah dan Dakwah

Pertama-tama tanyakan pada diri Anda, apa kegunaan dari wawancara karena akan menentukan bentuk pertanyaan?

Apakah Anda mencari informasi yang luas, pribadi dan profesional dari narasumber?
Apakah Anda mencari informasi mengenai topik tertentu dari narasumber?
Apakah Anda mencari reaksi atas sebuah berita yang sedang hangat?
Apakah Anda bermaksud membongkar lebih banyak fakta tentang sebuah berita kontroversial yang melibatkan narasumber?

Gaya wawancara

Luas, pribadi, santai, tidak konfrontatif

Mencari informasi yang sangat spesifik, siapa, apa, mengapa, kapan, di mana, atau memilih sudut pandang yang spesifik.

Wawancara ‘menodong’ (the doorstop interview) – sedikit pertanyaan dan informasi yang didapat – hati-hati dengan pertanyaan yang Anda inginkan untuk narasumber. Jangan risaukan hal-hal mendasar seperti siapa, apa, mengapa, kapan, di mana bila Anda sudah tahu jawabannya.

Wawancara rumit dan sulit, sering digambarkan sebagai wawancara yang bersifat merugikan. Tidak dianjurkan untuk dilakukan oleh jurnalis yang tidak berpengalaman, membutuhkan pengetahuan detil mengenai topik yang dibahas. Bisa juga disusun sebagai wawancara yang tidak terlalu agresif, namun tetap menjaga agar narasumber tidak mempermainkan jawabannya.

Tips wawancara secara umum

Persiapan untuk wawancara dilakukan secara maksimal.

Jangan terlalu terpaku pada kerangka wawancara hingga Anda tidak mendengar dan bereaksi pada perkataan narasumber – DENGARKAN!

Jangan takut menanyakan pertanyaan-pertanyaan bodoh. Jangan takut akan keheningan. Tunggu narasumber merespon.

Lawan sebisa mungkin diberi dorongan untuk mencatat di depan kamera atau alat perekam. Jangan membuat jemu narasumber sebelum Anda mulai. Obrolkan mengenai cuaca, atau apa saja di luar topik wawancara, hingga kamera/alat perekam mulai merekam

Coba susun pertanyaan-pertanyaan mengenai subyek yang sulit dan kontroversial sedemikian rupa sehingga narasumber harus memberikan jawaban ya atau tidak.

Kemudian bila narasumber terpaksa menjawab ya/tidak untuk semua pertanyaan Anda, kembali gunakan pertanyaan bagaimana, apa, mengapa, kapan, di mana

Posted by: Damanhuri
Written by drh. Haryono Madari
Bumi Madina Asri, Rabu 14 Maret 2007

Artikel ini sumbangan Asep Saifullah dari Pena Indonesia

TIP-TIP bagian pertama

TEKHNIK MEMBACA

Membaca merupakan proses mengkonstuksi makna bacaan. Pembaca aktif mengolah, memikirkan, mengembangkan, dan memaknai teks yang sedang dibacanya. Dalam membaca ada tekhnik dan proses yang perlu diperhatikan, agar bacaan kita efektif dan bermakna, antara lain:
1) Membaca sebagai Proses Aktif Mencari Makna
Membaca merupakan kegiatan bernalar. Membaca merupakan bentuk dari kegiatan berpikir. Oleh karena itu, ketika seseorang mengajari anak untuk membaca, berarti dia membantu anak untuk menggunakan penalarannya dalam menghadapi suatu bacaan. Salah satu perwujudan membaca sebagai kegiatan bernalar adalah inferensi (proses menyusun hubungan logis atau menyempurnakan informasi berdasarkan ingatan dan pengalaman seseorang). Inferensi merupakan kegiatan menjadikan kata-kata bermakna, menghubung-hubungkan proposisi dan kalimat, dan mengisi potongan-potongan informasi yang hilang. Dalam menyusun inferensi, pembaca harus menginferensikan suatu kata dalam konteksnya. Di samping itu, pembaca juga harus meletakkan ke dalam kerangka yang lebih besar atas pemamahaman kalimat dan teks secara keseluruhannya.
2) Membaca sebagai Proses Konstruktif
Membaca juga merupakan kegiatan menghubungkan gagasan-gagasan itu dengan latar belakang pengetahuan yang dimiliki pembaca. Setelah pembaca mendapatkan makna dari bacaan, maka dia akan mengkontruksi sebuah pemahaman baru dalam dirinya, bisa dengan asosiasi atau asimilasi.
3) Membaca sebagai Proses Penerapan Beragam Pengetahuan
Untuk memperoleh pemahaman yang tepat tentang suatu bacaan, pembaca perlu menggunakan pengetahuannya yang selama ini dimiliki, di samping pengetahuan tentang bacaan yang sedang dibacanya. Tentu saja, di samping pengetahuan tersebut, pembaca harus menerapkan dan memahami pengetahuan yang terdapat dalam bacaan yang sedang dibacanya. Bacaannya harus dianalisis dalam berbagai tingkatan, mulai dari huruf-hurufnya sampai dengan keseluruhannya maknanya. Dengan kata lain, pembaca itu sedang menerapkan pengetahuannya, dari pengalaman hidupnya dan dari bacaan sebelumnya, ketika dia melakukan aktifitas membaca.
4) Membaca sebagai Proses Strategis
Pembaca yang efektif memiliki dan mampu menentukan tujuan membaca dengan benar. Tujuan membaca sangat menentukan proses dan cara membaca, sekalipun jenis bacaan yang dibacanya sama tapi dengan tujuan yang berbeda maka hasil dari membacanya juga berbeda. Proses dan cara membaca cerita (misalnya novel) yang bertujuan untuk memperoleh nilai-nilai bacaan dengan yang bertujuan memperoleh hiburan. Pembaca pertama melakukannya dengan menganalisis dan mengorganisasikan unsur-unsur yang memuat nilai-nilai bacaan, sedangkan pembaca kedua melakukannya dengan memfokuskan unsur-unsur yang menarik, yang baru, dan yang menimbulkan “teka-teki” untuk memancing bekerjanya “rasa ingin” pembaca.
Berdasarkan pemikiran bahwa membaca merupakan proses mengkonstruksi makna bacaan, itu berarti bahwa pembaca memahami bacaan yang lebih rumit secara bertahap. Dari waktu ke waktu, mereka mengembangkan dan memperbaiki pemahamannya tentang hakikat bacaan serta meningkatkan kesadarannya akan adanya struktur dalam bacaan tersebut.

Student’s Dormitory, 12 april 2007.

Damanhuri khazin R.
(kampus santri mahasiswa Islamic College of eL-Ha)

"NIKMAT atau ISTIDRAJ?

Ketika Ustads Fuad, adalah seorang Ustadz dari Bangil, Pasuruan, dan menjadi dosen tetap di STAI Luqman al hakim, Surabaya, sekarang sedang menempuh program Magisternya di bidang tafsir al QurĂ¡n di Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta (PK III yaitu bagian pengkaderan STAIL tahun lalu, sampai tahun 2006) dalam ceramahnya di depan mahasiswanya mengatakan apakah asrama kita itu akan mendatangkan Nikmat atau mendatangkan adzab tergantung pada siapa yang menempatinya. Kalau penghuninya beramal dengan amalan yang diridhai Allah maka datanglah Nikmat, tapi sebaliknya jika penghuni asrama itu mengerjakan amalan yang Allah benci dan Dia murkai, maka adzablah yang akan datang menghampiri. Lain Ustads Fuad lain lagi Ustads Habiburrahman el Syirazi (penulis buku fenomenal Ayat-ayat Cinta). Kang Abik sering mengulang kata-kata ini “mudah-mudahan ini Nikmat bukan Istidraj”. Apa Istidraj itu? Istidraj itu sebenarnya adzab juga, tapi adzabnya tidak datang seketika, dia datang setelah didahului ‘Nikmat’. Istidraj itu juga ‘Nikmat’. Bingung kan?

Saya juga tidak mau memilih, apakah Istidraj atau Nikmat yang mendatangiku? Itu hak Allah yang menurunkan Nikmat bagi orang yang dikehendakinya. Tapi juga tidak bisa memilah yang mana yang Nikmat bagiku dan yang mana yang Istidraj bagiku?, cukuplah bagiku meyakini seperti apa yang diyakini oleh Syaikh Hasan Basri, “......., saya meyakini bahwa rezekiku tidak akan tertukar dengan orang lain, maka aku tenang dengan itu, ....”. Kebahagiaan dan kepuasan adalah suatu hal yang sangat berharga bagi seseorang. Ada yang puas karena dia telah mampu menundukkan perasaannya dan perasaan lawan jenisnya, ada yang bahagia karena kiriman uang sudah masuk ke rekeningnya, ada lagi yang bahagia karena memperoleh pekerjaan, ada yang puas karena prestasinya tidak anjlok. Bahkan ada yang bahagia karena baru saja dia lepas dari problemanya. Entah apapun bentuknya, kita kembalikan dan tanyakan pada kita sendiri. Apakah yang kita peroleh itu benar Nikmat atau bukan. Kalau bukan Nikmat pasti yang lain.

“Ketika saya menulis buku, baik Ayat-Ayat Cinta, Di Atas Sajadah Cinta, Nyanyian Cinta, maupun karya-karya saya yang lain selalu ada ribuan pertanyaan yang berkecamuk dalam benak & jiwa saya: Apakah karya saya itu nantinya akan mendatangkan rahmat atau malah mengundang Azab? Apakah karya saya itu akan memberikan kontribusi positif bagi umat atau malah sebaliknya? Apakah karya saya itu akan membangun jiwa atau malah merusak jiwa? Apakah karya saya itu akan dinilai ibadah oleh Allah atau dinilai sebuah dosa besar yang tak terampuni oleh-Nya? Saya takut jangan-jangan saya tidak bisa mempertanggungjawabkannya kelak di hadapan Allah Azza wa Jalla” kata Ustad Habiburrahman dalam sebuah wawancara dengannya. Akhir-akhir ini, telah terjadi beberapa peristiwa penting yang perlu dicatat oleh kita, seperti pergantian kepemimpinan PPH yang pasti akan merombak struktur kepengurusan di lembaga-lembaga di bawahnya. Peristiwa lain, adalah STAIL “dikenalkan” tanpa harus mengenalkan ke Public oleh saudaranya sendiri, BMH. Bagi saya, jalan dan gerakan seseorang itu sudah merupakan pelajaran terpenting baginya. Tiap orang punya jalan kehidupan yang berbeda. Hanya saja, kita berharap semua yang terjadi benar-benar menjadi Nikmat yang besar dari Allah, al-Mun’im. Berbagai ucapan selamat dan bantuan orang lain pada kita bukan merupakan Istidraj dari_Nya. Terakhir, karya tulis kita, apapun bentuknya, apalagi semester delapan lagi sibuk menggarap Skripsi, benar-benar bermanfaat dan memberikan kontribusi yang positif bagi umat.

Damanhuri.Surabaya, Jumat, 19 April 2007